Showing posts with label Pendidikan Anak. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Anak. Show all posts

Wednesday, April 18, 2007

Tips Menghadapi Anak Yang Tertutup

Tips Menghadapi Anak yang Tertutup

Oleh : Dra. Adriani Purbo Psi. MBA
--------------------------------------------------------------------------------
"Dik...baru pulang dari study tour ya? ceritaain dong, disana ngapain aja?, bagaimana di perjalanan tadi?.." Beberapa contoh pertanyaan ini mungkin pernah ditujukan kepada anak-anak kita. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada anak yang menjawab dengan panjang lebar mengenai apa saja yang dilakukannya tapi ada juga anak yang menjawabnya singkat saja.
Pada anak-anak dengan kepribadian tertutup (introvert), pertanyaan-pertanyaan di atas, akan cenderung di jawab dengan sangat singkat, tidak berusaha menjelaskan panjang lebar bahkan kadang-kadang cenderung diam saja atau bersikap malu-malu.


Melihat kecenderungan prilaku anak yang tertutup (Introvert) seperti ini, sebaiknya orangtua perlu memahami tipe kepribadian anak dan menerimanya sebagai suatu yang normal bahwa setiap anak memang memiliki kekhasan sendiri-sendiri.

Anak dengan kepribadian Introvert, biasanya memiliki ciri-ciri, antara lain:

enggan mengungkapkan isi hati atau pendapatnya
cenderung pendiam
tidak banyak komentar
bicara seperlunya
kurang ekspresif
senang mengamati daripada bicara
senang bekerja sendiri ketimbang harus bekerja kelompok
kurang memiliki banyak teman, namun jika memiliki teman maka hubungannya akan sangat kuat.
Kepribadian Introvert ini, bisa disebabkan oleh faktor genetik yaitu diturunkan oleh sifat ayah/ibu yang Introvert, dan faktor lingkungan, misalnya saja lingkungan yang tidak memberikan rangsang kepada anak untuk membuka dirinya atau mengemukakan pendapatnya.

Menurut pendapat beberapa ahli, pribadi yang seimbang adalah pribadi dimana seseorang memiliki kecenderungan Ekstrovert dan Introvert. Sehingga dengan demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta kebutuhan akan privasi dan refleksi diri kedua-duanya terpuaskan.

Dalam menghadapi anak dengan kepribadian tertutup (Introvert), dibawah ini ada beberapa tips yang dapat digunakan agar anak menjadi pribadi yang seimbang:

Berikan lingkungan yang dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk bersikap terbuka dan bebas mengemukakan pendapat sehingga secara tidak langsung anak akan mendapat rangsangan untuk membuka dirinya. Perlu diingat bahwa seorang anak memiliki kepribadian yang masih dapat berubah, sehingga tidak tertutup kemungkinan baginya untuk dapat berkembang menjadi lebih optimal melalui peran orangtua dalam menciptakan lingkungan yang kondusif buat anak.
Mengingat bakat dan minat anak yang masih bisa berubah dan umumnya masih terbatas/sederhana, maka lebih bijaksana untuk memberikan berbagai kesempatan pada anak untuk mengenali berbagai kegiatan yang tidak hanya cenderung Introvert seperti melukis, menulis, membaca,dsb, tapi juga kegiatan yang cenderung ekstrovert, seperti presenter, menyanyi, dsb,yang dapat memberi kesempatan pada anak untuk berlatih menjadi lebih ekspresif.
Biasakan anak mengikuti aktivitas-aktivitas sosial, agar anak dapat belajar bersosialisasi/ bergaul. Meskipun anak memiliki kepribadian Introvert, tetapi karena dia dikondisikan untuk bergaul dia akan berkembang optimal tanpa kehilangan ciri kepribadiannya. Perlu diingat pula bahwa dalam pemberian aktivitas sosial ini, jangan paksa anak untuk langsung berhadapan dengan situasi sosial yang membutuhkan ketrampilan interaksi sosial yang tinggi, yang justru akan membuatnya stress. Berikan secara bertahap dimulai dari hobinya terlebih dahulu, kemudian secara bertahap libatkan orang lain dalam kegiatan hobinya tersebut.
Berikan "model" Ekstrovert agar anak bisa menjadi lebih terbuka. Misalnya dengan berusaha mencarikan satu teman sebayanya yang memiliki pribadi yang suka berteman, ramah, spontan, suka bicara, humoris, baik hati untuk diajak bermain ke rumah atau diajak bepergian bersama-sama.
Pahami Introvert sebagai sebuah tipe kepribadian yang normal, dimana terdapat di dalamnya segi positif dan negatifnya.Dengan pemahaman kita bahwa Introvert adalah suatu yang normal maka diharapkan akan makin besar peluang kita untuk membantu anak mengembangkan citra diri yang positif. Sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat.

Sumber : sahabatnestle

Read More......

Wednesday, September 06, 2006

Multilingual pada anak

Bagi para orang tua Indonesia yang membesarkan anaknya di luar negeri, tentunya sering kali kita bertanya-tanya `"Bagaimana sih sebaiknya mengajarkan anak kita 2 atau lebih bahasa (bahasa asing dan bahasa ibu)" atau "Mungkinkah anak-anak kita dapat belajar lebih dari 1 bahasa pada usia dini". Selain itu timbul pula kekhawatiran2 bahwa nantinya anak-anak kita tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Berikut ini beberapa informasi dan point penting yang mungkin bisa membantu para orang tua yang ingin mengajarkan beberapa bahasa pada anak sedari dini.
1. Mempelajari lebih dari satu bahasa bagi seorang anak sangat mudah

Anak yang dibesarkan dengan lebih dari satu bahasa mempunyai kesempatan yang lebih baik di masa depan. Mereka nantinya lebih mengerti adanya perbedaan kultur dan budaya yang ada. Riset membuktikan bahwa anak dapat belajar 2 atau lebih bahasa pada usia dini sepanjang mereka secara aktif didukung dalam pemakaian bahasa tersebut. Apabila Ayah dan Ibu mempunyai bahasa yang berbeda, seorang anak juga tidak akan masalah untuk mempelajari bahasa ayah dan ibunya. Namun demikian aturan yang jelas merupakan hal yang sangat penting, seperti "Satu orang tua memakai satu bahasa", ayah memakai bahasa A dan ibu memakai bahasa B, atau sewaktu makan memakai bahasa C.

2. Dengan bahasa apa sebaiknya kita berbicara pada anak?

Banyak sekali orang tua yang bukan native speaker dimasa lalu dan mungkin juga sekarang disarankan untuk mengajarkan anaknya bahasa asing sehingga diharapkan anaknya akan lebih mudah beradaptasi untuk memakai bahasa asing tersebut di tempat lain. Namun demikian saran ini adalah bukan hal yang cukup baik. Dengan anak sebaiknya kita menggunakan bahasa yang merupakan bahasa yang benar-benar kita kuasai baik dalam penguasaan kata-kata, tata bahasa atau pengucapannya dalam hal ini tentunya bahasa ibu/native languange. Hal ini merupakan hal yang sangat penting karena merupakan dasar pembentukan bahasa anak di masa dininya. Dalam hal ini, anak akan mempunyai waktu untuk belajar bahasa asing entah di sekolah, lingkungan pergaulan atau melalui kursus-kursus dengan para native speaker di kemudian hari.

3. Keseimbangan pemakaian Bahasa
Apabila kita menginginkan anak kita untuk dapat menguasai dengan baik bahasa. Keseimbangan pemakaian bahasa merupakan hal yang sangat penting Sebagai contoh, seandainya lingkungan sekitar si anak menggunakan bahasa German atau bahasa lainnya, maka apabila kita menginginkan anak kita menguasai bahasa Indonesia sebaiknya kita menggunakan bahasa Indonesia di rumah atau membawa anak ke lingkungan pergaulan orang Indonesia. Dan bila kita menginginkan si anak bisa bahasa Inggris, maka kita bisa memasukkannya ke tempat-tempat kursus yang menggunakan english native speaker

4. Bagaimana caranya kita membantu anak untuk belajar bahasa.

Keluarga memegang peranan penting bagi perkembangan bahasa pertama anak. Jika anak merasa nyaman dengan menggunakan bahasa pertamanya, mereka akan dengan mudah mempelajari bahasa asing lainnya entah di sekolah atau di tempat lainnya.

Berikut beberapa point untuk mengembangkan kemampuan verbal bahasa pada anak.

a. Berbicara dan Bercerita

Percakapan kita sehari-hari dengan anak merupakan modal yang sangat penting. Berbicara dan berceritalah sering kepada anak, sebagai contoh tentang kegiatan kita hari ini, tentang pekerjaan kita, atau tentang kakek dsb. Kemudiaan ikut sertakan juga anak kita dalam kegiatan kita sehari-hari, sebagai contoh didapur, kemudian jelaskan apa yang kita kerjakan. Dengan banyaknya kita berbicara dan bercerita diharapkan anak juga mampu mengekspresikan

Read More......